Prima Dalam Pelayanan Sebagai Perwujudan Rahmatan Lil Alamin

» Selamat Datang di Website RSU Muhammadiyah Metro
Indahnya Berbaik Sangka

Ditulis Oleh: Alhaya Firdaus Siddiq   Tanggal: 28 2017   Dilihat: 367 x


INDAHNYA BERBAIK SANGKA

AR. Hamdi, M.A.

 

Berpikir dan berprasangka positif disebut dalam istilah Islam dengan ‘khusnuzh zhan’. Ia merupakan akhlak mahmudah (terpuji) yang harus dipelihara oleh setiap muslim. Bahkan, ia merupakan bagian dari keimanan mereka. Sebab, jika pikiran dan prasangka seorang muslim telah diselimuti hal-hal negatif maka akan bermunculan di hatinya penyakit-penyakit hati yang dapat merusak kualitas keimanannya. Hal itu, dapat kita pahami dari perintah Allah SWT yang menyuruh setiap mukmin menjauhi pikiran dan prasangka negatif. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ibnu Katsir mendefiniskan azh-zhan dalam ayat di atas sebagai sangkaan dan yang mengarah pada tuduhan kepada keluarga, kerabat, dan setiap orang yang tidak pada tempatnya. Jadi, az-zhan yang harus dijauhi adalah prasangka buruk yang belum tentu benar apa yang disangkakan.

Sebenarnya, ayat di atas tidak menunjukkan adanya tartib (tingkatan) dalam lafazhnya. Namun, dari sisi maknanya larangan tersebut menunjukkan adanya tingkatan dari ketiga larangan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari prasangka buruk yang merupakan perkara hati dan pikiran adalah sebagai sumber dari kedua perkara buruk selanjutnya. Jika seorang telah berprasangka buruk kepada saudaranya, tentu ia akan mencoba membuktikan apa yang disangkakan tersebut dengan mencari kesalahan-kesalahan orang yang diprasangkainya. Jika dia telah mendapatkan bukti dari kesalahannya tersebut, tentu dia tidak akan tahan untuk tidak menceritakannya kepada orang lain. Dengan begitu ia telah melakukan ghibah yang sangat dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dimana, ghibah tersebut bagaikan memakan daging saudara sendiri. Sungguh merupakan perbuatan yang sangat hina bagi seorang muslim.

Oleh sebab itu, Islam menyuruh ummatnya untuk selalu berpikir dan berprasangka positif. Prasangka dan pikran potif tersebut, tentunya tidak hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT.

Berpikir dan berprasangka positif kepada diri sendiri adalah menilai positif diri sendiri. Hal itu dengan tidak menganggap diri seorang yang lemah, tidak berdaya, dan kekurangan-kekurangan lainnya sehingga diri kita pun berubah menjadi orang yang penakut, cemas, pesimis, dan lain-lain. Tetapi, sebagai seorang muslim kita harus memandang bahwa diri kita adalah ciptaan Allah SWT yang sama baiknya dengan manusia lain. Kita masih memiliki potensi yang istimewa sekalipun berbeda dengan potensi orang lain. Kita merasa percaya diri dengan kemampuan kita dengan tetap tawakkal kepada Allah SWT dan tidak merasa sombong. Dengan begitu, kita akan menjadi orang yang bahagia dan selalu optimis menjalani kehidupan di dunia ini.

Namun demikian, asas berpikir negatif tetap dikedepankan ketika kita sedang berhadapan dengan Allah SWT. Dalam arti, ketika sedang bermunajat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Jika dalam kondisi tersebut maka kita tetap merendahkan diri kita dan menganggap diri kita sebagai orang yang banyak dosa dan lalai. Kita merasa sering melalikan perintah-Nya dan melanggar beberapa larangan-Nya sehingga sangat membutuhkan ampuanan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Adapun anjuran berpikir dan berprasangka positif kepada Allah SWT juga disebutkan dalam Al-Qur`an dan hadits. Prihal berpikir dan berprasangka positif tentunya tetap yakin bahwa Allah SWT tetap memuliakan kita dalam kondisi apa pun. Baik dalam kondisi senang, gembira, sehat, lapang rezeki, atau dalam kondisi susah, sedih, sakit, miskin, tertima musibah, dan sebagainya. Jangan sampai ketika dalam kondisi yang tidak diinginkan, kita merasa bahwa Allah SWT telah mengabaikan dan menghinakan kita. Sebab, hal itu adalah sifat umumnya seorang manusia yang sangat dibenci oleh Allah SWT:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (QS. Al-Fajr: 15—16)

 Oleh sebab itu, kita perlu meyakinkan diri bahwa Allah SWT selalu mengedepankan sifat kasih sayang-Nya, meskipun kita tidak merasakan itu secara langsung. Yakinkan diri pula bahwa tidak semua hal yang tidak disukai berdampak buruk bagi diri kita. Semua itu adalah cobaan yang mempunyai hikmah besar yang akan kita rasakan di kemudian hari. Sebaliknya, yakinkan pula bahwa tidak semua perkara yang enak dan menyenangkan itu baik bagi kita. Kadang-kadang gula yang manis dan enak, berbahaya bagi tubuh, tapi obat yang begitu pahit malah banyak faedah dan manfaatnya.

Dengan meyakini bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari Allah yang Maha Kasih dan Sayangnya, akan membuat jiwa menjadi tenteram. Tanpa berfikir seperti ini kita akan menjadi korban pikiran kita sendiri. Obat yang terbaik dari penyakit ini adalah berpikir bahwa kita akan sembuh dengan kasih sayang Allah SWT. Kita meyakini pula bahwa apa yang terjadi adalah atas kehendak-Nya:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)

Berhusnuzhzhan kepada Allah SWT merupakan salah satu perbuatan yang ditekankan oleh Rasulullah SAW. Karenanya, beliau memperingatkan kita agar mati dalam keadaan husnuzhzhan kepada Allah SWT. Beliau bersabda:

 “Janganlah sekali-kalian seorang di antara kalian melainkan dalam keadaan husnuzhzhan kepada Allah azza wa jalla.” (HR. Muslim)

Dengan berpikir dan berprasangka positif, baik kepada Allah SWT, orang lain, maupun diri sendiri akan memberikan banyak manfaat. Menurut Ibnul Qayyim bahwa berprasangka baik kepada Allah SWT adalah bagian dari tawakkal seorang hamba. Selain itu, dengan prasangka baik tersebut Allah SWT akan membalas kebaikan dari apa yang disangkakannya tersebut. Jika terekam dalam memori kita bahwa Allah SWT akan selalu menolong maka Dia akan menolong kita. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Qudsi:

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 Adapun jika kita berbaik sangka dan berpikir positif kepada orang lain kita akan dapat hidup bahagia. Hati kita akan menjadi lapang dan tenteram, serta pikiran kita bersih karena tidak ada rasa dengki dan penyakit hati lainnya. Dengan begitu, hubungan kita dengan orang lain akan menjadi lebih erat. Semuanya akan saling percaya dan saling menjaga kelemahan dan kekurangan saudaranya.

Salah satu keistimewaan berprasangka dan berpikir positif tersebut adalah dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan akhlak beliau yang mulia. Yakni, ketika seluruh kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah tersebut. Namun, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah SAW, serta melumuri wajah beliau dengan pasir.

Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah SAW, ‘Wahai Muhammad, (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nabi Nuh –`Alaihi As-Salam— atas kaumnya.’ Rasulullah SAW pun segera mengangkat tangan beliau. Tetapi yang terucap dalam doa  beliau bukanlah doa kutukan, melainkan untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah menyakitinya, ‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka dapat menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.’ (Al-Ahadits Al-Mukhtarah, karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi). (red.ugi)


Share on twitter
Berikan Komentar
Back to Top