Hotline : (0725) 49490

SAMBUT MARHABAN DENGAN GEMBIRA

artikel

            Ramadhan sudah tinggal menghitung hari, tidak sampai hitungan bulan, tentu ini menjadi khabar gembira bagi kaum muslimin dimana saja mereka berada. Karena ini merupakan bulan yang dinanti-nanti bukan hanya orang yang beriman tetapi juga oleh orang yang hanya memiliki Iman yang Musiman. Dalam menyambut ramadhan di tahun ini ditengah-tengah adanya wabah yang menyebar yakni covid-19 atau korona, kita tetap harus optimis dan semoga wabah ini akan berakhir sebelum ramadhan. Orang-orang sholeh mereka menyambut ramadhan dengan semangat, senyum kegembiraan hal ini terbukti dengan antusias mereka dalam menyambutnya.

Beragam cara penyambutan, ada yang menyambut sesuai dengan sunnah adan yang menyelisihi sunnah, Ada yang bersungguh-sungguh pun ada yang biasa saja sebagaimana bulan lainnya. Para ulama memberrikan contoh bagaimana memperlakukan Ramadhan demikian istimewa. Dengan persiapan yang luar biasa. Karena sudah seyogyanya siapapun yang ingin berangkat menjumpai satu keadaan ia mesti punya bekalan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً

 “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu……” (QS: At Taubah: 46).

Syaikh al-Fauzan pernah ditanya :

Bagaimana keadaan salafusshalih-radhiyallahu’anhu dalam menyambut bulan yang agung ini? Bagaimana sikap dan kebiasaan mereka?

Beliau berkata”Keadaan salaf di bulan Ramadhan, sebagaimana hal itu telah tercatat dalam kitab-kitab yang diriwayatkan dengan sanad yang terpercaya.  Bahkan para salaf senantiasa memohon kepada Allah ‘azza wajalla agar menyampaikan/mengantarkan mereka sehingga bisa menjumpai Ramadhan, yaitu sebelum masuknya bulan itu.

Mereka meminta kepada Allah supaya mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Mereka mengetahui bahwa di bulan itu terdapat kebaikan yang sangat besar dan kemanfaatan yang begitu luas.

Karenanya Sebagian ulama salaf mengatakan:

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.” (dalam Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

            Masya Allah ini menunjukan betapa gigihnya orang-orang sholeh terdahulu semangat, bergembira dan antusias yang tinggi untuk menyambut ramadhan. Lalu bagaimana dengan kita?

Ada beberapa hal yang hendaknya dipersiapkan dalam menyambut ramadhan yang penuh keberkahan yaitu:

1.      Berdo’a kepada Allah

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantunkan. Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir – seorang ulama tabi’in –, bahwa beliau mengatakan,

Diantara doa sebagian sahabat ketika datang Ramadhan,

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.” (HR. Ahmad 888, Ad-Darimi dalam Sunannya no. 1729, dan dinilai shahih oleh Syua’ib Al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad, 3/171).

Doa ini hanya dibaca ketika seseorang melihat hilal di awal bulan. Karena itu, bagi yang tidak melihat hilal, tidak disyariatkan membaca doa ini ketika masuk awal bulan. Sebagaimana keterangan Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam syarh Hisnul Muslim, hlm. 262.

2.      Taubat

Setelah kita melewati 11 bulan mungkin ada kekhilafan, keteledoran, kesalahan, atau bahkan dosa dan pelanggaran juga kedzaliman yang dilakukan, maka hendaknya kita segera bertaubat kembali kepada Allah mohon ampun atas dosa-dosa kita. Karena kita akan memasuki bulan yang penuh dengan keberkahan ampunan dan keutamaan-keutamaan. Allah SWT berfirman :


وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

“Bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-oran beriman sekalian agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur : 31)

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Taubatlah kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada-Nya setiap hari seratus kali.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar r.a.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الله تبارك وتعالى : ” يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار ، وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman , ”Wahai hamba-hamba Ku… sesungguhnya kalian berbuat dosa sepanjang siang dan malam. Dan Aku mengampuni dosa seluruhnya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw yang sudah dijamin masuk syurga yang dosa-dosanya sudah diampuni Allah saja istighfar taubatnya kepada Allah setiap hari sampai seratus kali lalu bagaimana dengan kita yang tidak ada jaminan kita tidak tahu apakah diampuni atau tidak dosa-dosa yang kita perbuat? Ya Allah betapa lemahnya kita mari kita untuk segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya terlebih kita mau memasuki bulan ramadhan.

3.      Semangat Beramal Sholeh

Banyak peluang dan kesempatan untuk beramal kapan pun dan dimanapun kita berada. Sekarng kita mau memasuki ramadhan tentu semakin semangat tuk beramal kebaikan. Dalam hal memandang amalan, ibadah yang paling afdal, paling bermanfaat, dan paling tepat untuk diprioritaskan oleh seorang hamba, yakni beramal sesuai dengan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala di setiap waktu, dengan amalan yang paling dituntut dan paling sesuai dengan kondisi saat itu.

Ibnu Qayyim berkata, “Tanda-tanda benarnya keinginan keras adalah jika keinginan dan perhatian seseorang adalah Ridha Rabbnya dan bersiap siaga setiap saat untuk berjumpa dengan-Nya, dia akan menyesal atau gusar apa bila waktu berlalu bukan dalam keridhaan Dia. Segala hal urusannya, kesibukannya adalah dia tidak menaruh perhatian dan harapan kepada selain Allah baik di kala siang atau malam.”

Allah Swt memberikan motivasi kepada kita ;

Barangsiapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.(Qs. An-Nahl : 97)

والله اعلم بالصواب

 

 

 

             

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Post


Comment

Form Comment

Butuh Doktor untuk Checkup Penyakit ?